 |
Tuan Ma, prosesi 2011
|
Melihat Dari Dekat Semana Santa Larantuka (1)
"Maria
Misionaris Pertama"
Silverius Koten,
Setiap
tahun, pada perayaan pekan suci - sepekan sebelum paskah - kota
Larantuka, sebuah kota kecil di ujung timur pulau Flores, selalu
didatangi ribuan pesiarah. Tradisi unik di kota itu, menjadi alasan
kedatangan para pesiarah. Di sana, tradisi gereja katolik terinkultirasi
dengan dua budaya yang terpelihara dengan baik selama 5 abad. Budaya
Lamaholot dan budaya Portugis.
Menyambut perayaannya
tahun ini, kota Larantuka mulai didandani. Meski belum cantik benar,
wajah kota itu mulai dibersihkan. Tumpukan sampah di jalan-jalan
dibakar. Lubang-lubang di sepanjang jalan utama ditambal - meski
terpaksa dengan semen. Di Kapela-tempat ibadah dengan ukuran kecil dan
tori-tempat sembayang milik suku-suku semana, juga mulai tampak sibuk
dengan persiapan.
Di tengah persiapan itu, tampak
sejumlah pesiarah sudah mulai berdatangan. Rombongan mahasiswa Kupang,
pesiarah seantero nusantara bahkan dari luar negeri tampak mulai hilir
mudik mengunjungi kapela. Puncak kedatangan pesiarah setiap tahun
biasanya pada hari rabu trewa dan kamis putih.
Semana
santa sebenarnya sebutan dalam bahasa Portugis untuk Pekan Suci. Dalam
tradisi gereja Katolik, pekan suci dimulai pada minggu Palma sampai
minggu paskah. Pada masa itu, orang Katolik berdoa, berpuasa, dan
menimba rahmat sambil merenung dan mengenangkan kisah Yesus mulai dari
masuk kota Yerusalem, perjamuan terakhirnya dengan para murid, Wafat
hingga kebangkitanNya.
Di Larantuka, semana santa atau
pekan suci dikenal juga dengan sebutan "hari bae" (hari baik); saat
berahmat. Secara liturgis, semua bentuk perayaan dalam pekan suci di
Larantuka sama dengan perayaan di gereja Katolik di seluruh dunia. Yang
membedakannya adalah devosinya (doa khusus) pada Maria.
 |
| Tikam Turo |
Agama Katolik sendiri masuk ke Flotim melalui Solor. Diceritakan,
pada tahun 1550, sebuah kapal dagang Portugis singgah di pulau Solor
dalam perjalanan dagang membeli rempah-rempah. Para pedagang Katolik ini
berkenalan dengan masyarakat setempat, mengajar Agama dan
mempermandikan sejumlah orang di sana. Tahun 1556, sebuah kapal Portugis
melintasi wilayah itu dan ketika menghadapi cuaca buruk, ia mampir dan
berlindung di pulau solor. Nahkoda kapal itu mengajarkan agama Katolik
kepada raja Lohayong (Solor) dan mempermandikannya menjadi Katolik.
Apa
yang dirintis oleh kaum awam yang pedagang ini kemudian dilanjutkan
oleh para misonaris Portugis yang datang kemudian. Di bawah para
misionaris Dominikan, Gereja Solor berkembang. Misionaris pertama adalah
pastor Antonio de Taceira. Mereka kemudian mendirikan benteng Lohayong
(Fort Henricus).
Perkembangan iman Katolik juga tidak
bisa dilepas pisahkan dari peran raja Larantuka dan para suku-suku
semana. Pada 1665, Raja Ola Adobala dibaptis atau dipermandikan dengan
nama Don Fransisco Ola Adobala Diaz Vieira de Godinho. Raja ini kemudian
menyerahkan tongkat kerajaan berkepala emas kepada Bunda Maria Reinha
Rosari.
Setelah tongkat kerajaan itu diserahkan kepada
Bunda Maria, Larantuka sepenuhnya menjadi kota Reinha dan para raja
adalah wakil dan abdi Bunda Maria. Pada 8 September 1886, Raja Don
Lorenzo Usineno II DVG, raja ke-10 Larantuka, menobatkan Bunda Maria
sebagai Ratu Kerajaan Larantuka. Sejak itulah, Larantuka disebut dengan
sapaan Reinha Rosari.
Prosesi pada malam jumat Agung
juga merupakan tradisi yang ditinggalkan bangsa Portugis. Dalam prosesi
yang disebut sesta Vera itu, Arca Maria Bunda Berdukacita atau Mater
Dolorosa yang oleh orang Larantuka disebut Tuan Ma yang diarak keliling
kota.
 |
| Prosesi Laut |
Ada beberapa versi ceritera tentang keberadaan Tuan Ma. Salah satu versi
menurut tutur sejarah lisan menyebut, mula-mula ditemukan oleh seorang
pemuda bernama Resiona di pantai Larantuka pada tahun 1500-an. Arca
wanita cantik itu kemudian dibawa olehnya dan ditahtakan di rumah adat
sukunya (Koke Bale). Arca wanita cantik itu, diperlakukan selayaknya
sebuah benda keramat milik suku.
Misionaris Portugis yang
datang kemudian, memperkenalkan bahwa arca itu adalah Maria. "Maria
adalah misionaris pertama di Larantuka, dia yang mula-mula datang
sebelum para misionaris Portugal dan Belanda," ungkap ketua Dewan Paroki
Katedral Reinha Rosari, Saul da Costa.
Setelah
keluarga Resiona menjadi Katolik, arca Tuan Ma dipindahkan ke Kapela.
Meski demikian, Suku Resiona hingga kini tetap sebagai penjaga Tuan Ma.
"Ritus
ini mulanya milik Resiona, tetapi setelah dipindahkan ke Kapela dia
sudah menjadi milik RENU atau milik umat seluruhnya," terang pembina
serikat awam Katolik Conferia, Emanuel Sani de Ornay.
Versi
lainnya menyebut, patung tuan ma dibawah oleh misionaris portugis
Gaspardo Espirito Santo dan Agostinhode Madalena pada abad ke 16. Yang
lainnya mengatakan, arca tuan ma terdampar di pantai Larantuka setelah
kapal milik portugis karam di pantai kea atau Lokea.
Prosesi
malam Jumat Agung sendiri, menurut Eman berlangsung beberapa tahun
setelah kedatangan Arca Tuan Ma. Prosesi itu menurutnya merupakan sebuah
strategi show force untuk mempertahankan iman umat yang terguncang
akibat serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Belanda dan umat non
Katolik ke Kota Larantuka setelah sebelumnya telah berhasil menguasai
benteng Fort Henricus di Lohayong Solor.
"Banyak imam
Katolik yang meninggal dalam pertempuran itu, umat Katolik seperti domba
yang kehilangan gembala, tidak ada pelayanan sakramen dalam waktu yang
cukup lama, umat tercerai berai, banyak yang melarikan diri ke hutan,
tapi keberadaan serikat awam Conferia yang dibentuk misionaris ordo
Dominikan membuat umat tetap berkanjang dalam doa. Saat-saat sulit
seperti itu, Maria sungguh dialami sebagai penghibur, pendoa, pembawa
pengharapan kepada Putranya Yesus, pengalaman iman seperti itulah yang
membuat Maria tidak bisa dilepas lagi dari kehidupan iman bahkan
keseharian umat," tutur Eman.
Selain raja, peran
suku-suku semana juga sangat besar dalam menjaga tradisi semana santa
Larantuka. Ada 13 suku semana yakni Suku Kabelen Resiona, Lewai atau
Laveri-Kabu, Raja Ama Koten atau DIaz Viera de Godinho, raja ama Koten
atau suku Kea- Aliandu, raja ama Kelen atau Blantaran de Rosari, ama
Maran, Sau-Diaz, Riberu-da Gomes, suku Kelen (Balela), Lamuri, da Silva
Mulawato, Lawerang, Kapitan Jentera-Fernandez Aikoli.
Kepemimpinan
tradisional inilah yang dipakai oleh misionaris Portugal sebagai pintu
masuk Katolik. Suku-suku ini selain melakukan doa (mengaji semana), juga
menjaga warisan suku berupa benda-benda suci. Kapitan Jentera atau
Fernandez Aikoli misalnya, suku ini merupakan penjaga sebuah patung
Yesus dengan tangan terikat. Oleh orang Larantuka disebut tuan trewa.
"Benda-benda
suci diserahkan ke suku-suku untuk disimpan di Koke Bale menjadi media
pengkatolikan umat waktu itu, benda-benda suci itu menjadi aset suku,
dijaga secara turun temurun, kemudian saat ini disimpan di tempat khusus
milik suku yang disebut tori," imbuh Saul da Costa.
"Termakan Usia, Digantikan Duplikat"
Umur
arca tuan ma kini mencapai 502 tahun. Ketika mencapai umur 500 tahun
atau tepat 5 abad pada 07 Oktober 2010 silam, umat merayakan pestanya
secara besar-besaran. Perhitungan umurnya sendiri didasari pada studi
sejarah Tuan Ma yang ditulis oleh seorang Belanda, Francois Valentyn.
Buku yang berjudul Oud en Nieuw Oost Indien etc itu melaporkan tentang
adanya musibah karam di Pulau Penyu yang disebut Nusapinha Lokea yang
aslinya Lewo Kea (kampung Penyu).
Studi sejarah itu,
paralel dengan salah satu versi sejarah tentang Tuan Ma yang dituturkan
di Larantuka. Dari berbagai ceritera yang penuh misteri itu, dikisahkan
juga bahwa arca Tuan Ma ditemukan terdampar di pantai Lewo Kea setelah
mengapung di sebuah kapal Portugal karam di perairan.
Terlepas
dari berbagai misteri yang melingkupi kehadiran Tuan Ma di tengah umat
di Larantuka, arcanya tidak luput dimakan usia. Tuan Ma yang setiap
tahun selama ratusan tahun berarak bersama umat mengikuti kisah hidup
putranya Yesus dalam tradisi sesta vera akhirnya rapuh juga.
 |
| Tuan Ana yang dipikul Lakademu |
Uskup
Larantuka, Mgr. Frans Kopong Kung, Pr, dengan semangat menjaga
kelangsungan tradisi itu mengusulkan untuk dibuatkan sebuah duplikat
Tuan Ma. Meski sebagai Uskup, ia adalah pemimpin tertinggi gereja yang
melingkupi wilayah Flores Timur dan Lembata, namun niatan itu tidak bisa
dipaksakannya. Ia tahu, Tuan Ma, meski sudah menjadi milik umat tetapi
dipelihara dan terwariskan dalam tradisi suku-suku semana.
"Ide
awalnya sudah ada sejak perayaan 5 abad. Banyak yang memberi masukan
kepada bapa uskup," terang sekertaris uskup, Rm. Blasius Kleden, Pr
ketika ditemui di istana kesukupan, selasa (03/04).
Pada
bulan desember 2012, uskup menyampaikan ide itu kepada putra raja
Larantuka, Don Martinus DVG. Gayung bersambut, Don Tinus mengumpulkan
semua suku-suku semana, perangkat kapela, dan conferia-serikata awam
gereja yang berdevosi khusus kepada Bunda Maria.
Rencana
itu ternyata mendapat reaksi beragam. Banyak yang menolak dengan keras.
Seorang Lajenti-petugas dari suku tertentu yang selalu berjalan mundur
di depan Tuan Ma setiap prosesi-bahkan mengancam akan berhenti. Don
Tinus, terpaksa mengancam dengan otoritasnya, untuk mengalihkan tugas
Lajenti ke suku lain.
"Barang yang tabu ko kamu
seenaknya mau rubah," tutur Don Tinus mengulang protes umat.
Kesepakatan
kemudian tercapai. Meski masih ada sejumlah penolakan. Patung Tuan Ma
asli setiap tahun tetap ditahtakan di kapelanya untuk upacara cium tuan.
Sementara, duplikat hanya untuk perarakan mengikuti rute prosesi saja.
Sebelum pembuatan duplikat, suku-suku semana,conferia, dan perangkat
kapela melakukan novena selama 9 hari di kapela Tuan Ma. Novena itu
dilakukan dengan satu tujuan: memohon ijin dari Tuan Ma.
 |
| Tuan Meninu |
Butuh waktu 48 hari bagi Emil Diaz (55), seniman pematung, untuk
menyelesaikan pekerjaannya. Ia diberi sebuah ruang khusus di istana
keuskupan. Sebelum mulai pekerjaannya, Emil yang juga adalah kerabat
kerajaan Larantuka itu, disumpah untuk tidak menceritakan kepada
siapapun ikhwal pembuatan patung itu.
Hasilnya
memuaskan. Patung yang berbahan dasar fiber itu mirip dengan aslinya.
Kemiripan rupa itu juga, menurut Rm. Blasisus, mampu meredam protes
sejumlah suku-suku semana. Hal itu, menurutnya, terindikasi dari
kehadiran umat ketika pemberkatan patung itu di istana keuskupan, kamis
(29/03) lalu.
"Jumlahnya umat yang datang mencapai
sepertiga umat yang ikut perosesi jumat agung," katanya.
Mgr.
Frans Kopong sendiri, ketika pemberkatan Tuan Ma duplikat, menegaskan,
jika patung hanyalah sarana sikap dan teladan hidup. Patung menurutnya
bukan tujuan. Patung hanya alat yang membantu umat untuk lebih
menghayati kehidupan iman serta mengenal dan mencintai Bunda Maria.
 |
| Duplikat Tuan Ma |
”Patung
bukan pusat. Bukan tujuan dari devosi dan ibadat. Ia hanya alat yang
membantu agar kita lebih mengenal dan mengasihi Tuhan dan Bunda Maria
serta mencontohi sikap dan teladan hidup Bunda Maria,” ujar Uskup Frans.
Usia
patung yang sudah mencapai 500 tahun, bagi Uskup Frans, rapuh juga oleh
hukum alam. Usianya yang menua, membuat kondisi patung Tuan Ma tidak
aman untuk diarak dalam prosesi. Ia berharap, ketuaan fisik dan
kerapuhan patung itu tidak membuat devosi dan tradisi yang terawat
hingga 5 abad berakhir.
"Sebagai alat yang membantu
sudah selayaknya kita harus merawat dan menjaganya,” kata Uskup.
_________________________________________ ***** ________________________________